Menurut laporan Standard & Poor’s yang bertajuk Paparan Industri: Risiko Ekonomi dan Negara, Restrukturisasi, dan Peringkat Industri Telekomunikasi Asia Pasifik 2009, sektor telekomunikasi di wilayah ini masih didominasi pemain lama yang memliki kondisi keuangan cukup sehat. Mereka akan mendapatkan porsi pendapatan lebih besar dari non-discretionary produk dan layanan.
Akan tetapi, operator selular masih akan menghadapi risiko dari berubahnya profil bisnis. Seperti perlambatan pertumbuhan industri terutama untuk pasar yang sudah terbentuk (mature), persaingan tarif, dan masalah regulasi di tiap negara. Menurut Yasmin Wirjawan, analis kredit Standard & Poor’s, berdasarkan konsolidasi bisnis yang terjadi tiga-empat tahun belakangan, aktivitas merger dan akuisisi (M&A) yang terjadi pada 2009 akan terfokus pada pasar yang tengah berkembang, seperti India dan Indonesia. “Hal ini terjadi karena adanya kekurangan likuiditas dan perhitungan skala ekonomi,” kata Yasmin.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa perang harga masih terus terjadi dan kompetisinya akan lebih sengit. Hal ini membuat perusahaan menghadapi prospek pertumbuhan yang terbatas. Untuk itu, kata Yasmin, perusahaan memilih untuk mengambil kesempatan dari layanan baru, seperti data atau broadband. “Ke depan, layanan data dan broadband akan memberi kontribusi cukup signifikan bagi kas perusahaan,” tegas dia. Namun, ia menuturkan bahwa layanan nilai tambah (value-added service, VAS), seperti Internet Protocol Television (IPTV), justru akan mengalami pertumbuhan yang tidak terlalu tinggi.
Filed under: telekomunikasi